VIVA.co.id – Dr. Keri Lestari Dandan, M.Si., Apt. mungkin nama yang masih asing bagi kebanyakan publik awam. Namun, jika Anda penderita diabetes, suatu saat harus berterima kasih atas hasil jerih payahnya, yang akan dikomersilkan dalam waktu dekat oleh perusahaan farmasi milik negara, Kimia Farma.

Keri, begitu dia biasa disebut, adalah peneliti sekaligus dosen di Fakultas Farmasi Univesitas Padjadjaran (Unpad). Dia telah menemukan obat diabetes generasi baru pertama berbahan herbal, asli Indonesia.

Wanita yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Farmasi Unpad ini telah bertahun-tahun meneliti obat anti diabetes. Selain karena lingkungan keluarga, yang beberapa bermasalah dengan diabetes, Keri juga sangat ingin membuat perubahan bagi masyarakat banyak.

Bagi dia, diabetes adalah penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia, namun sejatinya bisa dikendalikan dan bisa diajak “bersahabat.” Dalam data yang Keri paparkan, Indonesia merupakan negara keempat yang memiliki prevalensi diabetes tertinggi. Bahkan dari 10 orang Indonesia, 5 di antaranya dipercaya menderita diabetes.

“Obat ini sekarang punya nama. Karena berasal dari ekstrak Biji Pala, jadi namanya Glucopala. Insya Allah jika tidak ada halangan, tahun ini akan diproduksi massal oleh Kimia Farma,” kata Keri.

Tahap selanjutnya, lanjut Keri, tinggal menunggu penilaian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang akan merekam hasil uji klinis ke manusia. “Jika sudah diluncurkan, ini akan menjadi obat dual agonis PPAR ganda pertama herbal dari Indonesia,” ujar dia saat ditemui di tempat prakteknya di Bandung.

Meski belum masuk dalam ranah penyembuhan diabetes, Glucopala temuan Keri diklaim mampu menurunkan gula darah dan antidislipidemik (mengendalikan kondisi lipid).

Artinya, penderita diabetes yang biasanya harus mengonsumsi dua obat untuk fungsi yang berbeda, menurunkan kadar gula darah dan mengendalikan lemak serta kolesterol, dengan obat ini maka hanya butuh mengkonsumsi satu obat, Glucopala.

Selain itu, karena obat ini berasal dari bahan alam, resiko efek sampingnya pun kecil. Bahkan dalam dosis terapi saat uji klinis pada hewan tidak ditemukan adanya efek samping yang negatif.

Namun jika pun ada efek samping, Keri yakin, kerusakan sel tubuh bisa diperbaiki secara otomatis atau reversible saat obat dilepas karena bahan dasar obat dari alam. Berbeda dengan obat sejenis yang berasal dari kimia, sel tidak akan mampu memperbaiki secara otomatis.

“Ini adalah obat dual agonis, memiliki dua fungsi dalam satu obat. Secara kedokteran, diabetes memang tidak bisa disembuhkan kecuali dengan transplantasi pankreas.

Yang ada adalah mengatasi gangguan dari kadar glukosa darah dengan cara me-manage insulin atau rekayasa insulin. Amerika yang pertama kali mencetuskan dual agonis PPAR Ganda, jenis glitazar.

Namun India meluncurkan lebih dulu pada Juni 2013, melalui serangkaian penelitian selama 13 tahun, hasilnya berupa Lipaglin. Namun itu semua masih berbahan dasar kimia,” jelas Keri.

Dalam penelitiannya, Keri bercerita, setelah menekuni penyakit diabetes sejak kuliah S1, dia mendapatkan kesempatan merasakan beasiswa dari Dikti untuk belajar ke Korea. Di sana ia melakukan penelitian terhadap bumbu dan rempah-rempah yang tersedia.

eri pun tertarik pada biji pala yang dianggapnya mudah dicari dan kerap dikonsumsi masyarakat. Awalnya ia hanya mendapatkan PPAR Gamma pada biji pala, sedangkan teman satu risetnya di Korea menemukan adanya PPAR Alfa di bahan yang sama.

Dua hal itulah yang disebut dual agonis. Kebetulan kala itu, sedang ada riset di Amerika terkait ‘New Diabetic Mechanism’ melibatkan PPAR ganda ini. Inilah yang kemudian dikembangkan Keri.

Penelitian ‘Nyeleneh’

Keri mengakui penelitiannya ini agak nyeleneh. Pasalnya, Biji Pala memiliki penanda zat aktif berupa Myritisin dan Safrol.

Kedua senyawa itu dianggap harmful, salah satunya menyebabkan kantuk. Oleh karena itu, Keri membuang kedua senyawa yang dianggap harmful itu dalam ekstraksi biji pala.

Lalu akan mahal kah obat antidiabetes temuan Keri ini? Bagi dia, mahal dan murah itu merupakan hal yang relatif.

Namun Keri memastikan, dibandingkan dengan obat sejenis yang berbahan kimia (Lipaglin), harga Glucopala akan jauh lebih murah. Menurut dia, obat herbal pun banyak yang memliki harga lebih mahal daripada obat kimia.

Bahkan presentasi impor obat herbal mencapai 50 persen. Padahal Indonesia memiliki banyak raw material untuk obat herbal segala penyakit.

“Obat herbal itu lebih mahal karena produksinya luar biasa dan penanganannya juga. Jika ada obat herbal murah, prosesnya hanya dikeringkan dan diseduh.

Itu stratanya masih jamu. Manfaatnya belum terbukti, hanya dari omongan turun temurun tanpa uji klinik yang lengkap, belum uji toksisitas. Tapi itu bukan suatu hal yang harus ditentang karena bagian dari kekayaan local wisdom kita.

“Para ilmuwan justru harus menggali itu, menjadikan inspirasi dari penelitiannya, “ kata Keri.

Kebaikan Pemerintah

Banyak ilmuwan yang merasa tidak nyaman melakukan penelitian dan mengabdi di Indonesia. Namun Keri menganggap hal itu tidak berlaku bagi dirinya.

Dia mengaku sangat berterima kasih dengan pemerintah Indonesia yang telah memberikannya kesempatan melalui beasiswa yang ia dapat. Ini terutama saat diberikan kesempatan belajar di Korea Selatan dan meneliti biji pala untuk diabetes di sana. Dia bahkan mengakui merupakan salah satu produk dari ‘kebaikan’ pemerintah.

“Jaman saya, cari beasiswa susah, untuk riset juga. Lima tahun terakhir, berubah drastis, banyak beasiswa dan pendanaan penelitian. Memang yang harus diutamakan itu adalah SDM. Percuma jika alat dan fasilitas canggih tapi SDM-nya tidak mumpuni. Sekolah di luar negeri ga bisa santai. Meskipun ada fasilitas namun dikejar dengan tuntutan mutu,” kata Keri.

Ia tidak memungkiri jika pemerintah memang memberikan reward yang masih kurang untuk penelitian dan ilmuwan. Namun hal itu balik lagi kepada individu masing-masing.

Dia menyebutkan pepatah, ‘lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang’. Ia pun berharap agar manusia Indonesia mau bersama-sama memajukan negara ini.

Pasalnya, Indonesia cukup potensial dengan bahan alam yang banyak. Bahkan 90 persen bahan herbal untuk obat ada di Indonesia.

“Memang tidak cukup dengan tekad, mesti sabar dan juga membangun jejaring. Kita bisa besar kalau kita bisa sama-sama. Jika dibilang negara tidak support, kayaknya engga. Saya buktinya. Kesempatan itu ada, hanya tinggal kita yang memanfaatkannya bagaimana,” ujar Keri.

Memang diakui Keri, fasilitas dan lab di luar negeri lebih dari mumpuni. Tidak heran jika ia mengaku betah berlama-lama di lab Yonsei University meneliti biji pala dari pagi hingga malam hari. Bahkan bahan kimia dan herbalnya pun lengkap, dari seluruh Asia, yang memang dianggap kaya dengan bahan herbal alami.

“Mulai dari bumbu, rempah-rempah, semua lengkap di satu rak. Yang berasal dari Indonesia satu rak sendiri, lainnya ada dari Thailand dan juga Filipina,” kata Keri. 

Wanita Multi-tugas

Keri sangat sibuk dengan banyak kegiatan: menjadi dosen anatomi, juga sebagai ahli farmasi, sampai beraktivitas sosial di Rotary Indonesia dan beberapa yayasan sosial. Tapi ibu dua anak ini mengaku masih mengganggap keluarga sebagai hal yang nomor satu.

Dia selalu mengupayakan komunikasi dengan keluarga, bahkan membuat grup whatsapp keluarga yang hanya terdiri dari empat orang, dirinya, dua anaknya dan sang suami yang tercatat sebagai salah satu pejabat di Pemkot Jabar.

Keri mengakui teknologi komunikasi yang ada saat ini cukup membantu dirinya berkomunikasi saat sedang berjauhan dengan keluarga. Namun justru gadget juga yang akan dilarang digunakan saat mereka bertemu muka kala tak sibuk.

“Di tengah kesibukan, kami upayakan untuk bertemu. Jika sudah bertemu, semua harus menyingkirkan gadgetnya.

Jangan sampai gadget menjauhkan yang dekat. Saya juga tidak pernah memaksakan anak. Sama seperti orang tua saya dulu tidak memaksakan saya.

Anak saya yang pertama tidak ada yang mengikuti jejak kedua orang tuanya, satu masih SMP dan satu lagi kuliah di ITB jurusan Bisnis Manajemen.” ujar wanita yang pernah mengenyam pendidikan Arsitektur di salah satu perguruan tinggi swasta.

Mengurus keluarga memang bukanlah hal yang gampang. Namun Keri yakin jika semua wanita mampu menjalaninya.

Pasalnya, dia pernah melakukan penelitian jika anatomi otak perempuan memang multi-tugas, berbeda dengan pria yang hanya single task. Jadi dia tidak heran jika kebanyakan pria sering mengeluh jika diminta untuk membantu mengurus keluarga dengan alasan telah lelah berkutat dengan pekerjaan kantor. Sebaliknya dengan wanita yang mampu mengatasi keduanya.

“Wanita itu memang benar-benar mampu menyatukan keluarga. Coba saja lihat keluarga yang hanya memiliki ibu, kebanyakan masih survive dan bisa terus bersatu, harmonisasi terjaga. Berbeda keadaannya jika hanya memiliki ayah, tanpa ibu. Inilah pentingnya seorang ibu dalam rumah tangga. Wanita bisa menjalankan keduanya, sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir,” ujar Keri.

Namun begitu, lanjut dia, yang dibutuhkan wanita untuk bisa survive dalam ‘dua dunia berbeda’ adalah dengan menjalankan perannya diwaktu dan kondisi yang sesuai. Misalnya, ketika berada di rumah dan berkumpul dengan keluarga, maka dirinya harus 100 persen berperan sebagai ibu, demikian juga sebaliknya.

“Nikmati saja. Jangan pernah memilih antara keduanya, ibu rumah tangga dan karir. Jalani saja keduanya.

Jalin kerja sama yang baik dengan pasangan di rumah. Bagaimana cara kita berperan dalam harmonisasi.

Bagi Keri, itu tergantung ‘jam terbang’. Kalau berbuat sesuatu harus optimal karena optimal atau tidak, sama cape nya, hanya hasil yang membedakan.

Saat ini, bagi Keri, yang dicita-citakan Kartini sudah ada semua. Kita sudah sama dalam kesempatan.

Perempuan dan laki-laki tidak dibedakan. “Tapi menjadi apa pun kita di luar, jangan melupakan kenyamanan dan compliment kita sebagai perempuan,” kata Keri.

Anak dan keluarga jangan dilupakan, tetap menjadi tanggung jawab.  “Tolong ini dijaga, jangan sampai appeal kita sebagai perempuan disalahgunakan untuk mendapatkan sesuatu karena itu tidak akan pernah abadi dan malah menjadi bumerang untuk perempuan itu sendiri,” lanjut Keri.

Dia berprinsip, bekerja lah profesional karena kompetensi, termasuk menjaga martabat dan kehormatan di tempat kerja. (ren)

Sumber : https://www.viva.co.id/indepth/sorot/615286-keri-lestari-dandan-harapan-baru-penderita-diabetes