Pengesahan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa memacu pemerintah untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Pemerintah Jawa Barat.

Dari sekitar 5.000 BUMDes yang telah terbentuk di Jabar, banyak di antaranya yang telah meraih sukses. Namun, tidak sedikit pula yang baru sebatas berdiri, bahkan sebagian lagi malah layu sebelum berkembang akibat berbagai persoalan yang dihadapi BUMDes, termasuk sulitnya mengakses permodalan.

Para pengelola BUMDes mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan Lembaga resmi yang memimiliki akses pemodalan. Salah satunya adalah bank. Pihak bank sendiri mengalami kesulitan untuk menyalurkan modal ke BUMDes. Kondisi itu mengakibatkan kebuntuan, baik dari pihak BUMDes maupun bank dalam pengembangan BUMDes.

Menurut Peserta Penjaringan Bakal Calon Rektor Universitas Padjadjaran, Dr. Keri Lestari, hal tersebut bukan hal yang aneh.  Bahkan, Dr. Keri menyebut, kondisi tersebut sebagai hal lumrah dari sebuah inovasi kebijakan yang memang memerlukan penyempurnaan.

Keri yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor bidang Riset, Pengabdian pada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Universitas Padjadjaran ini menyatakan bahwa solusi untuk pengembangan BUMDes ini adalah  pelibatan semua pihak lewat konsep pentahelix. Konsep Pentahelix tersebut merupakan sinergi dari peran masyarakat, akademisi, dunia usaha, pemerintah, hingga media massa.

“Bicara bisnis tidak bisa sendiri, butuh sinergitas dari seluruh pihak demi tercapainya percepatan usaha. Sebab, pembentukan usaha harus dibarengi dukungan market (pasar), jejaring, regulasi, hingga sosialisasi lewat media massa,” papar Keri.

Keri kemudian mengatakan bahwa BUMDes adalah daya ungkit bagi perekonomian di desa. Masyarakat desa setidaknya kini memiliki wahana untuk berinteraksi dan berkomunikasi membuat sebuah usaha perekonomian.

“Kita (Universitas Padjadjaran) harus senantiasa mendukung dan terus bersinergi. Apalagi Saat ini, universitas sudah sampai di generasi keempat. Universitas tidak hanya dituntut untuk menghasilkan lulusan yang menjadi professional, ilmuwan, atau pengusaha. Para lulusan dari universitas generasi keempat ini harus memberikan sumbangsih nyata kepada pengembangan wilayah,” ujar Keri.