Sinergi untuk Unpad

Keri Lestari : Calon Rektor Unpad 2019 – 2024

SDM Unggul untuk Indonesia Maju

Kerilestari.id – Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menunjukkan keunggulan suatu bangsa dan mencerminkan daya saing bangsa di kancah dunia.

Indonesia membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul tapi cinta terhadap negara.

Kita butuh SDM unggul yang berhati Indonesia, berideologi Pancasila, menghargai keberagaman/kebhinekaan Indonesia. SDM unggul yang terus belajar , bekerja keras, berdedikasi menjaga NKRI

Indonesia memerlukan inovasi-inovasi yang disruptif, yang membalikkan masalah menjadi peluang, membalik sesuatu yg impossibile menjadi possibile, yang membuat kelemahan menjadi kekuatan dan keunggulan, yang mengubah kesulitan menjadi kemampuan. Berbekal inovasi & hilirisasi industri, kualitas SDM yg baik dan penguasaan teknologi, Indonesia bisa mengejar ketertinggalan, meraih keunggulan dan mampu melakukan “Quantum Leap” atau lompatan kemajuan untuk memanfaatkan sumber daya alamnya utk kesejahteraan & kemandirian bangsa Indonesia.

Momentum peningkatan SDM adalah sekarang tatkala berada di puncak periode bonus demografi antara tahun 2020 hingga 2024, Jika kita lebih fokus mengembangkan kualitas SDM dan berinovasi maka bonus demografi menjadi bonus lompatan kemajuan untuk INDONESIA MAJU.

Solusi Lestari : Sinergi untuk Peningkatan Kualitas Inovasi Pembelajarn Unpad

Dunia sudah memasuki era digital di mana tuntutan terhadap kualitas Sumber Daya Manusia lulusan perguruan tinggi semakin tinggi. Kuantitas bukan lagi menjadi indikator utama kesuksesan bagi suatu perguruan tinggi, melainkan kualitas lulusannya. Kesuksesan sebuah negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0 erat kaitannya dengan inovasi yang diciptakan oleh sumber daya yang berkualitas, sehingga Perguruan Tinggi wajib dapat menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja di era globalisasi.

Dalam menciptakan sumber daya yang adaptif dan inovatif dalam menghadapi perkembangan zaman, perguruan tinggi harus senantiasa menyesuaikan sarana dan prasarana pembelajaran dalam hal teknologi informasi dan komputerisasi. Kampus yang memfasilitasi infrastruktur pembelajaran tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Terobosan inovasi akan berujung pada peningkatan produktivitas industri dan melahirkan perusahaan pemula berbasis teknologi, seperti yang banyak bermunculan di Indonesia saat ini.

Peserta penjaringan bakal calon rektor Universitas Padjadjaran periode 2019-2024, Keri Lestari, menjelaskan bahwa Universitas Padjadjaran harus memastikan hal tersebut dimiliki oleh seluruh sivitas akademika, termasuk dosen dan tenaga kependidikan (tendik).

“Sebagai sebuah lembaga pendidikan, Universitas Padjadjaran harus mampu memberikan jaminan terkait dengan penyelenggaran layanan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan zamannya. Saat ini sudah memasuki zaman teknologi, maka itu harus kita fasilitasi dengan perkembangan teknologi juga,” jelas Keri.

Keri mengatakan bahwa ia akan memprakarsai system digital learning di Universitas Padjadjaran dengan melakukan pembenahan pada infrastruktur dan juga kurikulum yang mendukung proses pembelajaran di era digital. Integrated Information System akan lebih dimaksimalkan untuk mendukung proses digital learning tersebut. Para alumni kemudian akan turut dilibatkan untuk terlibat dalam proses pembelajaran.

“Kita akan terus bersinergi dengan para alumni. Mereka bisa membagi pengalamannya sebagai yang sudah menjadi praktisi di era teknologi dalam bidangnya masing-masing,” tambah Keri.

Era teknologi bakal dimanfaatkan juga untuk mengembangkan budaya Sunda. Keri akan mengembangkan program digitalisasi Budaya Sunda yang saat ini sudah berjalan di Universitas Padjadjaran. Tujuannya agar mahasiswa Universitas Padjadjaran dan seluruh generasi muda yang ada di Jawa Barat bisa terus menikmati budaya Sunda lewat media yang lebih modern.

“Ini akan menjadi bukti cinta dan kontribusi nyata kami(Universitas Padjadjaran) kepada Jawa Barat. Apalagi kita sudah memasuki era universitas generasi keempat di mana seluruh sivitas akademika harus memberikan sumbangsing nyata untuk pengembangan Regional. Unpad ya harus nyaah ke Jabar.” Tutup Keri.

Solusi Lestari : Sinergi Pentahelix untuk Unpad dan Pengembangan UKM

Pengesahan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa memacu pemerintah untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Pemerintah Jawa Barat.

Dari sekitar 5.000 BUMDes yang telah terbentuk di Jabar, banyak di antaranya yang telah meraih sukses. Namun, tidak sedikit pula yang baru sebatas berdiri, bahkan sebagian lagi malah layu sebelum berkembang akibat berbagai persoalan yang dihadapi BUMDes, termasuk sulitnya mengakses permodalan.

Para pengelola BUMDes mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan Lembaga resmi yang memimiliki akses pemodalan. Salah satunya adalah bank. Pihak bank sendiri mengalami kesulitan untuk menyalurkan modal ke BUMDes. Kondisi itu mengakibatkan kebuntuan, baik dari pihak BUMDes maupun bank dalam pengembangan BUMDes.

Menurut Peserta Penjaringan Bakal Calon Rektor Universitas Padjadjaran, Dr. Keri Lestari, hal tersebut bukan hal yang aneh.  Bahkan, Dr. Keri menyebut, kondisi tersebut sebagai hal lumrah dari sebuah inovasi kebijakan yang memang memerlukan penyempurnaan.

Keri yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor bidang Riset, Pengabdian pada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Universitas Padjadjaran ini menyatakan bahwa solusi untuk pengembangan BUMDes ini adalah  pelibatan semua pihak lewat konsep pentahelix. Konsep Pentahelix tersebut merupakan sinergi dari peran masyarakat, akademisi, dunia usaha, pemerintah, hingga media massa.

“Bicara bisnis tidak bisa sendiri, butuh sinergitas dari seluruh pihak demi tercapainya percepatan usaha. Sebab, pembentukan usaha harus dibarengi dukungan market (pasar), jejaring, regulasi, hingga sosialisasi lewat media massa,” papar Keri.

Keri kemudian mengatakan bahwa BUMDes adalah daya ungkit bagi perekonomian di desa. Masyarakat desa setidaknya kini memiliki wahana untuk berinteraksi dan berkomunikasi membuat sebuah usaha perekonomian.

“Kita (Universitas Padjadjaran) harus senantiasa mendukung dan terus bersinergi. Apalagi Saat ini, universitas sudah sampai di generasi keempat. Universitas tidak hanya dituntut untuk menghasilkan lulusan yang menjadi professional, ilmuwan, atau pengusaha. Para lulusan dari universitas generasi keempat ini harus memberikan sumbangsih nyata kepada pengembangan wilayah,” ujar Keri.

Solusi Lestari: Sinergi Kekuatan Ekonomi Unpad dan Jawa Barat

Bandung (3/9/2019). Kemiskinan terus menjadi masalah yang menakutkan di Jawa Barat. Bappeda Jawa Barat merilis data bahwa angka  pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan di Jawa Barat ada di angka 6,13%. Angka tersebut menjadi salah satu yang paling buruk di Indonesia. Kondisi tersebut juga diikuti dengan masalah pengangguran di Jawa Barat di mana menurut angka dari BPS, Jawa Barat ada di posisi pertama sebagai penyumbang pengangguran terbanyak di Indonesia.

Dikutip dari Kepala Bappeda Jawa Barat, Taufiq Budi Santoso kemudian menambahkan bawa para peneliti kemudian diharapkan mampu menemukan masalah utama perekonomian di Jawa Barat, termasuk masalah pengangguran. Dari riset tersebut juga diharapkan lahir solusi nyata bagi masalah tersebut.

Sinergi antara para akademisi di universtas dan juga pemerintah daerah sangat diperlukan untuk penyelesaian masalah ini. Universitas Padjadjaran, salah satu perguruan tinggi nasional harus bergerak aktif untuk bisa memberikan solusi untuk permasalahan yang ada di Jawa Barat, termasuk permasalahan kemiskinan di wilayah Jawa Barat. Hal itu diungkapkan oleh Keri Lestari sebagai peserta penjaringan bakal calon rektor 2019-2024.

“Intinya adalah sinergi. Unpad harus selalu bersinergi dengan pemerintah untuk menawarkan solusi dari riset yang terintegrasi dengan masalah yang dihadapi pemerintah, termasuk dalam permasalahan ekonomi di Jawa Barat untuk mewujudkan Jabar Juara dan Indonesia Maju” ujar Keri.

Keri kemudian mengatakan bahwa Unpad memiliki tujuan untuk menjadi sociopreneurial university. Unpad sedang menyiapkan lulusannya untuk bisa memiliki usaha berbasis teknologi yang tidak hanya mencapai profit, tetapi harus memberikan dampak positif bagi lingkungan. Salah satunya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan. Apalagi saat ini, Universitas sudah memasuki generasi keempat.

“Mengacu pada model Universitas generasi keempat di mana universitas tidak hanya sekedar menghasilkan professional, ilmuwan, dan juga pengusaha. Tetapi juga lulusan yang memberikan solusi untuk masyarakat,” jelas Keri.

Selama ini, Keri sudah mendorong para sivitas akademika di Universitas Padjadjaran untuk melahirkan inovasi yang selain bernilai ekonoms juga memberikan dampak positif bagi pengembangan wilayah. Beberapa produk baru kemudian dihadirkan oleh Keri. Salah satunya adalah Teh Dia, teh yang ramah bagi pengguna diabetes.

““Pengembangan produk “Tehdia” juga menggunakan model sosioteknopreuneur. Konsep ini mengedepankan kondisi sosial masyarakat untuk mendapatkan teknologi tepat guna dan arahkan masyarakat terlibat untuk sisi entrepreneur produk ini,” kata Keri Lestari

Solusi Lestari : Sinergi Riset dan Inovasi untuk Jabar Juara

Bandung (2/9/2019). Saat ini, dunia memasuki era Suistinable Development Goals (SDG’s) dengan prinsip utamanya yaitu no one left behind. Seluruh bangsa, termasuk Indonesia, mengedepankan prinsip pelaksanaan dengan inklusivitas, yakni melibatkan baik unsur pemerintah maupun non pemerintah seperti pelaku usaha, filantropi, organisasi masyarakat, juga akademisi dan perguruan tinggi agar semakin banyak masyarakat yang terlibat.

Hal tersebut menuntut perguruan tinggi harus memberikan dampak nyata dengan kewajiban tri dharma perguruan tinggi yang dimiliki oleh semua kampus. Pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian pada masyarakat harus berdampak nyata bagi masyarakat Hal tersebut diungkapkan oleh Keri Lestari, Peserta Penjaringan Bakal Calon Rektor Universitas Padjadjaran periode 2019-2024.

“Sekarang semua stakeholder dalam perguruan tinggi harus mengoptimalkan tri dharma perguruan tinggi untuk pengembangan di sekitar wilayah kampus,” ujar Keri Lestari.

Saat ini, Universitas Padjadjaran sudah memiliki SDG’s center yang telah bekerja selama dua tahun terakhir.  SDGs Centre dibangun untuk membuat sebuah studi mengenai SDGs yang nantinya akan menghasilkan rekomendasi kebijakan pada pemerintah daerah.

Dalam strateginya di kontestasi pemilihan Rektor Universitas Padjarajan, Keri Lestari ingin menyinergikan seluruh sivitas akademika di Universitas Padjadjaran untuk memberikan sumbangsih nyata untuk Universitas Jawa Barat. Apalagi Saat ini, universitas sudah sampai di generasi keempat. Universitas tidak hanya dituntut untuk menghasilkan lulusan yang menjadi professional, ilmuwan, atau pengusaha. Para lulusan dari universitas generasi keempat ini harus memberikan sumbangsih nyata kepada pengembangan wilayah.

 “Kata kunci utamanya adalah sinergi. Kita (Unpad) harus bisa terus bersinergi dengan pemerintah Jawa Barat untuk bisa memberikan solusi nyata yang impactful bagi masyarakat Jawa Barat dan membantu mewujudkan Jabar Juara,” tambah Keri.

Sinergi Unpad: Keberagaman dan Kebersamaan Kelas Dunia

STRATEGI PENGEMBANGAN UNPAD

Sinergi Unpad: Keberagaman dan Kebersamaan Kelas Dunia

Oleh: Dr. Keri Lestari, S.Si., M.Si., Apt.

No one can whistle a symphony. It takes a whole orchestra to play it.”   —

H.E. Luccock

Dunia sudah memasuki era globalisasi. Persaingan antar negara di berbagai sektor kemudian tidak bisa dielakkan. Bisa dikatakan tidak ada lagi status negara berkembang dan negara maju di persaingan internasional. Semua negara harus mempersiapkan diri menghadapi kerasnya persaingan dengan melahirkan inovasi di berbagai sektor, di mana aset non material seperti pengetahuan ataupun modal sosial menjadi aspek yang penting. Dengan demikian peran pengetahuan, inovasi dan teknologi menjadi sangat penting dalam pembangunan suatu wilayah (Lengyel, 2000).

Adapun faktor yang mempengaruhi tingkat daya saing digambarkan pada “The pyramid model of regional competiveness” berikut  ini:

Gambar 1. The pyramid model of regional competitiveness (Lengyel, 2000).

Berdasarkan model tersebut, “Penelitian dan Pengembangan Teknologi” (Research and Technological Development) adalah salah satu faktor pengembangan paling penting dalam meningkatkan daya saing daerah, sesuai dengan struktur pembangunan ekonomi regional. Universitas memiliki peran penting dalam menjawab tantangan tersebut karena kegiatan pendidikan dan penelitian mereka diperluas dengan mendorong perkembangan ekonomi dan sosial (Etzkowitz, 2002; Wright et al. 2008; Wissema, 2009).

Saat ini, telah terjadi transisi dari Universitas generasi ketiga hingga generasi keempat (Wissema, 2009). Dalam fase ini, universitas ditantang untuk tidak hanya menciptakan profesional (universitas generasi pertama), profesional dan ilmuwan (universitas generasi kedua), ataupun profesional, ilmuwan dan pengusaha (universitas generasi ketiga), universitas juga dituntut untuk menghasilkan professional, ilmuwan serta pengusaha yang memiliki andil dalam meningkatkan kompetensi regional. Universitas generasi keempat harus proaktif mempengaruhi pembangunan ekonomi lokal di daerah yang kurang berkembang (Imreh-Tóth dan Lukovics, 2014), sehingga universitas generasi keempat ini menjadi ujung tombal pengembangan wilayah.

Universitas Padjadjaran sudah mengejawantahkan tantangan tersebut. Lewat Visi Universitas Padjadjaran tahun 2020-2024 yaitu “Menjadi Universitas Riset dan Berdaya Saing Internasional,” Universitas Padjadjaran mempunyai tujuan besar untuk memperkuat daya saing bangsa Indonesia di level internasional namun tetap menjunjung tinggi nilai. Untuk mencapai visi besar tersebut, diperlukan beberapa misi :

  1. Menyelenggarakan tridharma perguruan tinggi yang mampu memenuhi tuntutan masyarakat pengguna (stakeholders) jasa pendidikan tinggi;
  2. Menyelengarakan pendidikan tinggi yang berdaya saing internasional dan relevan dengan tuntutan pengguna (stakeholders) jasa pendidikan tinggi dalam memajukan perkembangan intelektual dan kesejahteraan masyarakat;
  3. Menyelenggarakan pengelolaan pendidikan tinggi yang profesional dan akuntabel untuk meningkatkan reputasi akademik perguruan tinggi;
  4. Membentuk insan akademik yang menjungjung tinggi keluhuran budaya lokal, dan budaya nasional dalam keragaman budaya dunia.

Penguatan tentu diperlukan untuk terus mempertahankan dan juga mempertajam visi Universitas Padjadjaran tersebut. Apalagi di era globalisasi seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, inovasi menjadi penting untuk terus bertahan. Inovasi juga harus diikuti dengan sinergi seluruh stakeholder dari Universitas Padjadjaran untuk mendukung visi dan menuntaskan misi lembaga yang luhur tersebut. Sinergitas segenap komponen di Universitas Padjadjaran akan menjadi sebuah pijakan yang kokoh untuk melahirkan ragam inovasi sebagai penguat daya saing bangsa.

Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus yang dapat diterapkan dalam pengembangan Universitas Padjadjaran yaitu melalui visi kepemimpinan Rektor Unpad ke depan:

“Sinergi Unpad Sebagai World Class University

Sinergi sendiri adalah paduan dari tujuh misi yang akan menjadi program utama dalam pengembangan inovasi di Universitas Padjadjara. Ketujuh misi tersebut adalah:

Socio-technopreneurial University

Melalui segenap potensi yang dimiliki, segenap sivitas akademika Universitas Padjadjaran mengerahkan energinya untuk mewujudkan Univeritas Padjadjaran sebagai socio-technopreneur university dengan memanfaatkan inovasi teknologi serta hilirisasi riset yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang terjadi di masyarakat dan memiliki dampak sosial terutama untuk kesejahteraan masyarakat.

Inclusivity

Tata kelola manajemen Universitas Padjadjaran diarahkan untuk mengedepankan kebersamaan dan keterbukaan dengan mengembangkan komunikasi organisasi yang sehat serta secara intensif membangun reputasi positif lembaga di mata stakeholder. Nilai-nilai inklusifitas juga memiliki semangat untuk memajukan kesejahteraan segenap komponen lembaga dan mendorong kemajuan capaian setiap individu dalam lingkungan Universitas Padjadjaran. Misi ini selaras dengan prinsip utama dari SDGs yaitu No One Left Behind.

Nationalism

Sivitas akademika Universitas Padjadjaran didorong untuk mengambil peran dalam upaya memecahkan persoalan bangsa. Peran ini lebih lanjut harus mampu memperkokoh dan memperkuat posisi Universitas Padjadjaran sebagai referensi solusi di tengah dinamika yang dihadapi bangsa.

Education

Sebagai sebuah lembaga pendidikan, Universitas Padjadjaran harus mampu memberikan jaminan terkait dengan penyelenggaran layanan pendidikan yang berkualitas dan menjangkau segenap lapisan masyarakat. Nilai ini dikembangkan melalui segenap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan kualitas riset dan inovasi, baik mahasiswa sebagai peserta didik dan Dosen sebagai penyelenggara layanan pendidikan.

Respect

Semangat menghormati segenap komponen yang terlibat dalam membesarkan Universitas Padjadjaran baik di masa lampau, kini dan masa yang akan datang, diwujudkan dengan membangun budaya komunikasi organisasi yang dinamis dan komunikatif. Selain itu juga harus dikembangkan serangkaian upaya untuk memberikan apresiasi untuk setiap prestasi yang ditorehkan oleh segenap Sivitas akademika Universitas Padjadjaran.

Go Global

Setiap gerak langkah pengembangan Universitas Padjadjaran ke depan harus senantiasa didorong untuk memperkuat posisi lembaga di tengah percaturan tingkat dunia. Karya dan inovasi segenap sivitas akademika Universitas Padjadjaran harus mampu menjadi solusi bagi persoalan-persoalan tingkat internasional. Semangat ini diwujudkan melalui peningkatan kuantitas serta kualitas publikasi-publikasi karya ilmiah dan intensifitas kerjasama dengan lembaga-lembaga dunia.

Impactful

Setiap karya dan layanan sivitas akademika Universitas Padjadjaran, melalui riset, inovasi dan kerjasama harus dipastikan memberikan dampak yang signifikan sebagai upaya memberikan solusi dan manfaat bagi masalah yang dihadapi lembaga, masyarakat dan bangsa.

Guna mencapai dan mewujudkan visi dan misi mulia tersebut, Pimpinan Universitas Padjadjaran perlu memprakarsai dan membangun sinergitas dengan para stakeholder terkait. Mulai dari pelaku ekonomi, lembaga pemerintah dan masyarakat setempat untuk melahirkan inovasi dan kreasi. Hubungan dengan media (media relations) juga tidak boleh diabaikan sebab media adalah partner untuk menyampaikan inovasi tersebut kepada seluruh stakeholder (Carayannis dan Campbell, 2012; Carayannis dan Campbell, 2014).

Sinergitas Universitas Padjadjaran dengan para primary stakeholder tersebut dapat dijabarkan dalam sebuah konsep pentahelix collaboration. Universitas Padjadjaran memegang peran vital dan menjadi “Centre of Collaboration” dalam model ini. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan lahirnya ide baru serta inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa sesuai dengan visi Universitas Padjadjaran.

Gambar 2. Pentahelix Collaboration

Perwujudan model di atas tentu membutuhkan sinerigtas yang harmonis dan konsisten dari seluruh pihak yang ada. Terjalinnya sebuah sinergitas membutuhkan proses untuk saling memahami satu sama lain. Salah satu inti dalam membangun sinergitas adalah adanya kesadaran dan pemahaman akan lingkungan dimana rumah kita berada (Universitas Padjadjaran) dan para penghuni lingkungan tersebut. Menurut Daryl Corner (2011), ada empat aspek yang menjadi dasar terwujudnya sinergitas yang baik dan efektif.

Aspek pertama adalah interacting. Seluruh sivitas akademika di Universitas Padjadjaran diharapkan mampu menciptakan iklim komunikasi yang harmonis dan interaktif dengan seluruh stakeholder yang ada. Keberadaan kepemimpinan yang terbuka dan partisipatif menjadi pendorong bagi seluruh sivitas akademika dari berbagai rumpun keilmuan untuk bisa saling bertukar pendapat dan perspektif sehingga mampu melahirkan inovasi baru yang efektif dan solutif untuk masyarakat.

Appreciative Understanding adalah aspek berikutnya yang mempengaruhi kualitas hubungan antar stakeholder. Selain iklim komunikasi yang harmonis dan efektif, sinergitas bisa terwujud ketika para stakeholder memiliki pemahaman yang apresiatif. Perbedaan pendapat dijadikan modal untuk memperkaya perspektif, bukan sebagai modal untuk saling menyalahkan.

Tahap berikutnya adalah integrating. Integrasi adalah menggabungkan banyak perspektif dari berbagai bidang keilmuan yang ada di Universitas Padjadjaran. Bukan perkara mudah untuk mengintegrasikan berbagai sudut pandang dari berbagai bidang keilmuan. Budaya organisasi yang dimiliki Universitas Padjadjaran harus dipahami dengan baik oleh seluruh sivitas akademika yang terlibat. Hal penting yang juga harus dimiliki untuk mewujudkan integrasi adalah kepemimpinan yang terbuka dan menjunjung tinggi nilai sinergitas dalam menjalankan setiap program pengembangan di Universitas Padjadjaran,

Setelah menyatukan ragam perspektif dari ragam keilmuan yang menghasilkan sebuah inovasi, maka fase berikutnya adalah implementing. Inovasi yang lahir dari proses sinergitas antar sivitas akademika Universitas Padjadjaran harus diimplementasikan agar masyarakat bisa merasakan secara langsung dampak positif dari inovasi tersebut. Dibutuhkan perencanaan yang baik, menetapkan tujuan, kedisiplinan dan pelaksanaan yang konsisten dan juga dinamis menerima perubahan.

Proses implementasi membutuhkan road map yang jelas agar pelaksanaan dari inovasi-inovasi tersebut memiliki pola dan terfokus pada tujuan. Menselaraskan dengan situasi yang ada dan juga tantangan yang akan dihadapi, berikut ini disampaikan gagasan untuk pengembangan tata kelola strategi ekosistem inovasi UNPAD  4.0 untuk World Class University berikut ini:

Gambar 3. Strategi Ekosistem Inovasi UNPAD 4.0 untuk World Class University (WCU).

Salah satu program unggulan yang menjadi langkah awal untuk mewujudkan Unpad menjadi World Class University adalah Unpad Smart. Gagasan Unpad Smart dicetuskan untuk mendorong Universitas Padjadjaran untuk menjadi world class university dengan mengadopsi perkembangan sistem pembelajaran yang mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikas dalam program Digital Learning.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga diadopsi Unpad Smart untuk memprakarsai Program Sundanese Culture Digitalization Development. Program ini untuk menyinergikan kebudayaan lokal Tanah Sunda dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Tujuannya agar kebudayaan Sunda tidak lekang oleh perkembangan teknologi yang begitu pesat.

Unpad Smart juga menjunjung tinggi environmental ethics dengan memprakarsai program Green Campus. Program ini ada untuk menyelaraskan program di Universitas Padjadjaran dengan prinsip Sustainable Development Goals yaitu menjaga keberlangsungan Sumber Daya Alam dan lingkungan hidup.

Unpad Smart juga hadir untuk mengakomodir sivitas akademika Universitas Padjadjaran yang bergerak di bidang entrepreneurship lewat program Business Inovation Development. Program ini akan mendorong para penggiat wirausaha di lingkungan Universitas Padjadjaran untuk menciptakan bisnis yang tidak hanya mengejar profit dengan berbagai inovasi yang ada. Namun juga mengajak para pengusaha untuk menciptakan bisnis yang peduli terhadap people dan juga planet atau ekosistem alam.

Berbagai bentuk Inovasi di atas sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing di era globalisasi. Universitas menjadi center of knowledge dari proses tersebut karena fungsi riset dan pengembangan seperti yang tercantum dalam Tridharma Perguruan Tinggi. Apalagi Universitas saat ini sudah mencapai Universitas Generasi Keempat di mana universitas diharuskan untuk memberikan sumbangsih nyata kepada pengembangan daya saing bangsa.

Inovasi membutuhkan Sinergitas. Universitas Padjadjaran dengan ragam perspektif keilmuan di dalamnya perlu disenergikan untuk menghasilkan sebuah inovasi yang dapat diimplementasikan. Sinergi akan menghasilkan energi yang positif untuk terus meningkatkan daya saing untuk mewujudkan visi Universitas Padjadjaran menjadi World Class University.

Sebagai penutup Hayu Urang Sinergi Membangun Unpad”. Tiada sinergi tanpa keberagaman, pun tiada sinergi tanpa kebersamaan. Universitas Padjadjaran mengemban tugas mulia yang diamanatkan para pendiri bangsa, yaitu menjadi komponen terpenting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.  Seiiring berjalannya waktu, misi suci ini berkembang menjadi sebuah kebutuhan untuk menyelaraskan kualitas pendidikan dengan upaya melahirkan inovasi-inovasi besar yang mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan serta meningkatkan daya saing bangsa.

Mari kita selesaikan perubahan yang telah kita mulai. Kita telah bersama-sama menjadi bagian dari fase investasi untuk pengembangan Unpad menjadi World Class University. Saat ini kedepan menjadi fase aktualisasi untuk memetik manfaat dari investasi kita. Keberagaman adalah kekayaan kita, kebersamaan adalah kekuatan kita, dengan jejaring kerjasama dalam dan luar negeri kita jadikan Unpad diperingkat 500 World Class University.

Sinergi Unpad : Keberagaman dan Kebersamaan Kelas Dunia

Daftar Pustaka

Carayannis EG, Campbell DFJ (2012) Mode 3 Knowledge Production in Quadruple Helix Innovation Systems. Twenty-first-Century Democracy, Innovation, and Entrepreneurship for Development. SpringerBriefs in Business 6 (7): 1-63 Carayannis EG, Campbell DFJ (2014) Developed democracies versus emerging autocracies: arts, democracy, and innovation in Quadruple Helix innovation systems. Journal of Innovation and Entrepreneurship 3 (12): 23

Corner, Daryl. (2011). “Four Ways Communication can Build Synergy In Work Teams.” http://www.connerpartners.com/frameworks-and-processes/four-ways-communication-can-build-synergy-in-work-teams. Diakses Minggu, 25 Agustus 2019, 17.00

Etzkowitz, H. (2002): The Triple Helix of University-Industry-Government. Implications for Policy and Evaluation. Science Policy Institute, Stockholm.

Grosz A. – Rechnitzer J. (szerk.) (2005): Régiók és nagyvárosok innovációs potenciálja Magyarországon. MTA RKK, Pécs-Győr.

Imreh-Tóth M, Lukovics M (2014) Egyetemközpontú vállalkozásfejlesztés elmaradott térségben: negyedik generációs egyetemi funkciók? Marketing & Menedzsment 48 (2): 43-56

Lengyel I. (2000): A regionális versenyképességről. Közgazdasági Szemle, 12, pp. 962-987.

Lengyel I. (2003): Verseny és területi fejlődés: térségek versenyképessége Magyarországon. JATEPress, Szeged.

Vilmányi M (2011) Egyetemi-ipari együttműködések a kapcsolatmarketing nézőpontjából. Vezetéstudomány 42 (1): 52-63

Wissema, J.G. (2009): Towards the third generation university. Managing the university in transition. Edward Elgar, Cheltenham, United Kingdom